Sunday, February 18, 2018

Faktor-faktor resiko yang Berkaitan Dengan Kurang Tidur

Latar Belakang

Tidur yang didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana
orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton AC, 1997) merupakan bagian dari ritme biologis tubuh manusia yang penting untuk relaksasi sel saraf dan memulihkan stamina tubuh. (Astrawan M, 2007). Melalui serangkaian tahapan yang berbeda - beda, kompleks, dan multifaset, tidur memberikan sumbangan yang penting bagi pelaksanaan fungsi - fungsi kita pada siang hari. Tidur yang cukup dan berkualitas mampu memulihkan, meremajakan, dan memberikan energi bagi tubuh dan otak sehingga meningkatkan kewaspadaan, persepsi, daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja, ketrampilan, komunikasi, kreativitas, berat badan, mempengaruhi suasana hati, keselamatan, serta kesehatan yang prima (Maas JB, 2002).

Dalam era globalisasi ini pola kehidupan modern cenderung mengutamakan pekerjaan sehingga membuat ritme biologis tubuh menjadi
terganggu, termasuk jadwal tidur (Astrawan M, 2007). Menurut beberapa survei Gallup, 56% penduduk dewasa sering mengalami masalah mengantuk pada siang hari. Dalam jajak pendapat Gallup tahun 1995 ditemukan sebanyak 49% orang dewasa di Amerika Serikat menderita insomnia dan beberapa gangguan lain terkait tidur (Maas JB, 2002). Padahal berdasarkan penelitian-penelitian yang ada (Astrawan M, 2007; Maas JB, 2002; Kotagal S,Pinosi P, 2006; Ohayon MM et al, 2000; Ellis J, Fox P, 2004; Teixeira LR etal, 2007; Liu X, Buysse DJ, 2006; Amschler DH, McKenzie JF, 2005;Johnston SL, 2005; McKnight- Eily LR et al, 2008) kurang tidur kronis menyebabkan turunnya metabolisme dan fungsi tubuh, terutama otak, sehingga kesehatan dan potensi kita di siang hari menurun secara signifikan atau bahkan rusak. Akibatnya banyak pendidikan dan pelatihan yang sia-sia, kinerja yang tidak sempurna, produktivitas yang terus menurun, hilangnya pendapatan, terjadinya kecelakaan, penyakit, turunnya kualitas hidup, bahkan hilangnya nyawa.

Sampai saat ini di Indonesia masih jarang dilakukan penelitian yang
berkaitan dengan tidur dan permasalahannya, terutama di kalangan
mahasiswa. Ironisnya, berdasarkan penelitian - penelitian di Amerika Serikat dan Eropa, siswa SMA dan mahasiswa merupakan kelompok yang paling rentan menderita kurang tidur kronis. Akibatnya mereka mempunyai risiko yang lebih tinggi dalam mengalami dampak negatif yang ditimbulkannya (Maas JB, 2002; Kotagal S, Pinosi P, 2006; Ohayon MM et al, 2000; Liu X, Buysse DJ, 2006; McKnight-Eily LR et al, 2008) Mengingat besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat kondisi tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi kurang tidur kronis pada mahasiswa beserta factor - faktor yang mempengaruhinya.Berdasarkan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:

1.   Pertama.
Berapakah prevalensi kurang tidur kronis pada mahasiswa
2.   Kedua.
Adakah hubungan antara jenis kelamin, bidang ilmu yang dipelajari, serta jenjang strata program studi dengan prevalensi kurang tidur kronis pada
mahasiswa

Idealnya, diagnosis kurang tidur kronis dilakukan dengan melakukan pengujian Multiple Sleep Latency Test (MSLT) di laboratorium tidur. Metode yang dikembangkan oleh Dr. William Dement (Stanford University) ini terbukti akurat sehingga beberapa kali digunakan dalam penelitian ilmuwan lainnya. Namun, cara ini kurang praktis dan tidak semua negara memiliki fasilitasnya sehingga pada penelitian ini digunakan alat diagnostik berupa kuesioner yang merupakan modifikasi dari kuesioner Uji Diagnostik Tidur dari Prof. James B. Maas, yang berisi pernyataan - pernyataan yang merupakan indikator yang baik akan kurang tidur. Berdasarkan metode ini seseorang dinyatakan menderita kurang tidur kronis bila ada 3 atau lebih pernyataan dalam kuesioner yang sesuai dengan kondisinya sehari - hari (Maas JB, 2002).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dari 104 responden terdapat 47orang (45,19%) yang didiagnosis menderita kurang tidur kronis Prevalensi ini hampir sama dengan hasil survei dari The National Sleep Foundation (2006) yang menunjukkan sebanyak 45% remaja Amerika Serikat menderita kurang tidur kronis (Hitti M, 2008), namun sedikit lebih tinggi daripada hasil survey dari Wolfson & Carskadon (1998) yang menunjukkan sekitar 40% murid SMA dan mahasiswa di Amerika Serikat menderita kurang tidur (Wolfson AR, Carskadon MA, 1998) Prevalensi kurang tidur kronis pada mahasiswa laki - laki lebih tinggi daripada mahasiswa perempuan, namun setelah dianalisis secara statistik dengan uji Chi Square hal tersebut tidak signifikan (CI: 95%, p>0,05). Hasil ini sesuai dengan penelitian dari McKnight - Eily et al (2008), Chen et al (2005), serta Feng et al (2005) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan prevalensi kurang tidur kronis pada murid SMA dan mahasiswa. Prevalensi kurang tidur pada kelompok mahasiswa yang kuliah dibidang medis lebih tinggi daripada yang non
medis. Meskipun demikian, hal tersebut tidak bermakna secara statistik (CI: 95%, p >0,05). Hal ini sesuai dengan survei dari Chen et al (2005). Penyebabnya adalah karena mahasiswa yang kuliah di bidang medis mempunyai stresor dan kecemasan yang lebih besar (Maas, 2002 dan Feng GS, Chen JW, Yang XZ, 2005) akibat padatnya jadwal perkuliahan dan praktikum serta banyaknya tugas yang dihadapi. Prevalensi kurang tidur pada kelompok mahasiswa yang jenjang strata program studinya D III lebih tinggi daripada yang S1, namun tidak bermakna secara statistik (CI: 95%, p>0,05).

Penelitian - penelitian yang ada, termasuk penelitian ini belum menggali factor - faktor penyebab yang mungkin. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang lebih terperinci untuk mengetahui hal tersebut. Meskipun terdapat perbedaan prevalensi pada masing – masing kelompok dalam ketiga variabel tersebut, namun semuanya tidak bermakna secara statistik. Penyebab yang mungkin adalah kurangnya jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini (Sastroasmoro S, 2006). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis lebih dalam tentang factor - faktor risiko yang terkait dengan prevalensi kurang tidur pada mahasiswa dengan sampel yang lebih variatif dan jumlah yang lebih besar.